
Sepuluh tahun sudah bu Reni tak kunjung memiliki keturunan. Ia sudah mencari berbagai cara. Padahal secara ekonomi terbilang mapan, secara sosial sangat terpandang, suaminya pun seorang yg kini menjadi pejabat muda.Berbagai cara & program telah ia lakukan bersama suami, namun masih mengalami kebuntuan. Bu Reni dulunya terkenal sangat tomboy. Lebih dominan sifat pria ketimbang wanita dalam dirinya. Namun demikian ia tetaplah wanita yg utuh & tidak mengalami masalah apapun secara medis.
Setelah proses penguraian yg panjang oleh seorang pakar, diketahui bahwa penyebab utama dari kesulitannya itu disebabkan oleh “Birth Trauma” yg ia alami puluhan tahun silam. Birth Trauma adalah fenomena trauma bagi anak yg disebabkan saat atau sebelum proses persalinan mengingat frekwensi otak anak dalam kandungan hingga lahir sangat tinggi dalam menyerap apapun yg ada di luar.
Orang tua Bu Reni sangat menginginkan anak laki-laki, mereka sempat kecewa setelah mengetahui anaknya perempuan, kekecewaan orang tua ini sekalipun tidak begitu nampak karena mereka tetap menyayanginya, oleh otak Bu Reni sewaktu dalam kandungan diserap sangat detail.
Inilah kenapa di Jawa atau juga budaya Hindu dikenal berbagai larangan ketika ibu sedang hamil.Tanpa disadari Bu Reni seolah ta ingin orang tua kecewa, ia secara naluri memakai pakaian pria & berperilaku seperti laki-laki. Akibat dari kebiasaan ini, hormon kewanitaannya tidak begitu tinggi. Juga diperkuat secara psikologis tanpa ia sadari, ia tidak ingin jika anaknya merasakan nasib yg sama sepertinya, kehilangan identitas, hal yg samar dalam jiwanya memerintahkan agar tidak usah punya anak saja.
Sekali lagi, hati-hati dengan hal yang samar tapi dahsyat !
Sumber : FB Adi Slamet
