Jasa Pendampingan Hukum untuk Perusahaan Perkebunan – 08117806881

Dalam menghadapi dinamika pengawasan dan penegakan hukum oleh Satgas PKH, setiap perusahaan perkebunan membutuhkan pendamping hukum yang tidak hanya memahami regulasi, tetapi juga mampu menjembatani kepentingan bisnis dan kepastian hukum secara berimbang. Di sinilah peran advokat menjadi kunci, bukan untuk melawan hukum, melainkan memastikan setiap proses berjalan transparan, adil, dan sesuai koridor yang ditetapkan negara

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan menjadi babak baru dalam penegakan hukum dan tata kelola lahan di Indonesia. Perpres ini membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan yang diberi kewenangan luar biasa untuk melakukan inventarisasi, pemeriksaan, dan bahkan pengambilalihan kembali kawasan hutan yang dinilai dikuasai secara tidak sah. Perusahaan-perusahaan di sektor kehutanan, pertambangan, dan perkebunan adalah pihak yang paling terdampak langsung oleh kebijakan ini.

Dalam konteks ini, perusahaan perkebunan menghadapi risiko besar jika tidak segera mengambil langkah strategis dan hukum yang tepat. Tidak sedikit lahan perkebunan yang selama ini digunakan secara produktif ternyata secara tata ruang masih berada di dalam kawasan hutan versi pemerintah. Jika perusahaan tidak memiliki dasar legal formal dalam bentuk izin pelepasan kawasan hutan atau persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH), maka potensi sanksi sangat besar: denda administratif hingga pengambilalihan lahan oleh negara.

Melihat situasi tersebut, kami dari kantor hukum BLS LAWFIRM & PARTNER, menawarkan jasa pendampingan hukum terpadu kepada perusahaan-perusahaan perkebunan yang berpotensi atau sudah diperiksa oleh Satgas PKH. Artikel ini akan menjelaskan urgensi pendampingan hukum, potensi risiko, serta strategi mitigasi yang dapat dilakukan secara proaktif dan profesional.

Satgas PKH dan Kewenangannya

Berdasarkan Perpres No. 5 Tahun 2025, Satgas PKH dibentuk untuk menjalankan tiga misi utama:

  1. Penegakan hukum terhadap pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan tanpa izin;
  2. Pemulihan penguasaan negara atas kawasan hutan;
  3. Penertiban administratif melalui sanksi denda, penyitaan, dan penghentian kegiatan usaha.

Satgas ini terdiri dari unsur lintas kementerian dan lembaga, termasuk TNI, Polri, KLHK, Kejaksaan, dan BPN. Dengan kekuatan struktur tersebut, Satgas memiliki otoritas luas untuk turun langsung ke lapangan, melakukan pemeriksaan legalitas lahan, hingga mengambil tindakan pemulihan atas nama negara.

Kriteria pelanggaran yang diperiksa antara lain:

  • Pemanfaatan kawasan hutan tanpa izin kehutanan;
  • Penguasaan oleh perusahaan tanpa proses pelepasan kawasan hutan;
  • Penggunaan izin palsu atau diperoleh dengan cara tidak sah;
  • Tidak adanya kontribusi pembayaran PNBP atas pemanfaatan kawasan hutan.

Bila ditemukan pelanggaran, lahan perusahaan dapat diambil alih oleh negara tanpa melalui proses pengadilan perdata, melainkan cukup melalui proses administratif yang dikuatkan oleh audit Satgas.

Risiko bagi Perusahaan Perkebunan

Perusahaan-perusahaan perkebunan, baik sawit, karet, kopi, maupun tanaman industri lainnya, berada dalam posisi paling rentan terhadap implikasi kebijakan ini. Dalam banyak kasus, lokasi kebun telah dikuasai dan digarap selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, namun belum melalui proses pelepasan kawasan hutan secara formal. Beberapa perusahaan bahkan mendapatkan lahan melalui transaksi sekunder tanpa menyadari status hukum kawasan.

Risiko yang dihadapi antara lain:

  • Denda administratif yang nilainya bisa mencapai ratusan miliar rupiah;
  • Dihentikannya seluruh kegiatan produksi di lahan yang disengketakan;
  • Pengambilalihan aset kebun dan fasilitas oleh negara;
  • Proses hukum pidana atas tuduhan perusakan hutan atau perolehan izin tidak sah;
  • Penurunan nilai aset perusahaan di hadapan investor dan kreditor.

Lebih jauh, perusahaan juga terancam kehilangan legalitas produk ekspor apabila lahan asal dinyatakan berasal dari kawasan hutan tanpa izin.

Strategi Pendampingan Hukum

Sebagai firma hukum yang berpengalaman dalam tata kelola agraria dan kehutanan, kami menawarkan strategi pendampingan hukum yang bersifat proaktif, adaptif, dan berbasis solusi. Berikut adalah langkah-langkah utama yang kami tawarkan kepada klien:

  1. Audit Legalitas Lahan
    Kami akan menelaah seluruh dokumen perizinan lahan, termasuk HGU, SK Pelepasan Kawasan Hutan, Izin Lokasi, dan dokumen peralihan hak untuk mengidentifikasi kelemahan atau kekosongan hukum.
  2. Pemetaan Status Kawasan
    Tim ahli kami akan melakukan overlay peta lahan perusahaan dengan peta kawasan hutan (TGHK, RTRW, dan Peta Indikatif) guna memastikan posisi hukum lahan. Ini krusial sebagai dasar untuk membangun argumentasi hukum.
  3. Negosiasi dan Klarifikasi ke Satgas
    Kami mendampingi perusahaan dalam proses klarifikasi dan pemeriksaan oleh Satgas PKH, termasuk menyusun argumentasi hukum dan data pendukung agar lahan tidak dinyatakan sebagai pelanggaran.
  4. Penyusunan Strategi Legalisasi atau Permohonan Pelepasan
    Jika ditemukan pelanggaran administratif, kami akan membantu menyiapkan proses permohonan PPKH atau pelepasan kawasan hutan guna memperoleh legitimasi formal atas penguasaan lahan.
  5. Advokasi ke Kementerian dan Lembaga Terkait
    Kami memiliki jaringan advokasi ke KLHK, ATR/BPN, Kementerian Pertanian, dan lembaga teknis lain yang relevan guna mendorong proses percepatan legalisasi atau penyelesaian sengketa lahan.
  6. Penyelesaian Sengketa Non-Litigasi
    Jika timbul konflik dengan masyarakat atau pihak ketiga, kami juga memfasilitasi proses mediasi atau alternatif penyelesaian sengketa demi menjaga stabilitas usaha perusahaan.

Pentingnya Bertindak Sebelum Terlambat

Perlu dicatat bahwa Satgas PKH bukan lembaga yang memberikan peringatan berkali-kali. Dalam praktiknya, Satgas bisa langsung merekomendasikan sanksi setelah satu kali pemeriksaan lapangan jika dinilai terdapat pelanggaran yang nyata dan tidak dapat dibantah.

Oleh karena itu, pendekatan defensif yang bersifat menunggu justru berbahaya. Perusahaan harus mengambil langkah hukum dan administratif secara aktif untuk memastikan perlindungan atas aset dan kelangsungan usaha.

Kesimpulan

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin menertibkan penguasaan lahan di kawasan hutan secara sistematis. Perusahaan perkebunan tidak boleh meremehkan potensi risiko dari kebijakan ini. Dengan pendampingan hukum yang tepat, perusahaan tidak hanya dapat mempertahankan lahan yang dikuasai, tetapi juga menunjukkan itikad baik kepada negara bahwa kegiatan usaha dijalankan secara sah dan bertanggung jawab.

Kami dari BLS LAWFIRM & PARTNER, siap menjadi mitra hukum strategis bagi perusahaan Anda. Hubungi kami di WHASTAPP 08117806881 segera sebelum Satgas PKH datang tanpa pemberitahuan dan membawa risiko hukum yang tak terkendali.